Sunday, April 12, 2015

574; Kisah Umar, Salman & Pemuda

Bismillah.

I must share this story. 
.
.
Sedutan sebuah kisah benar yang terjadi pada zaman Khalifah Umar bin al-Khattab.

Suatu hari Umar sedang duduk di bawah pohon kurma dekat Masjid Nabawi. Di sekelilingnya para sahabat sedang asyik berbincang sesuatu. Di kejauhan datanglah 3 orang pemuda. Dua daripada pemuda tersebut memegang seorang pemuda berpakaian lusuh yang diapit oleh mereka.

Ketika sudah berhadapan dengan Umar, kedua pemuda yang ternyata adik beradik itu berkata, "Tegakkanlah keadilan untuk kami, wahai Amirul Mukminin!" 
"Qishashlah pembunuh ayah kami sebagai had atas kejahatan pemuda ini!".

Umar segera bangkit dan berkata, "Bertakwalah kepada Allah, benarkah engkau membunuh ayah mereka wahai anak muda?"

Pemuda lusuh itu tunduk kesal dan berkata, "Benar, wahai Amirul Mukminin."

"Ceritakanlah kepada kami kejadiannya", tegas Umar.

Pemuda lusuh itu mula bercerita, "Aku datang dari pedalaman yang jauh, kaumku mengamanahkan aku untuk suatu urusan muamalah untuk ku selesaikan di kota ini. Sesampainya aku, ku ikat untaku pada sebuah pohon kurma lalu ku tinggalkan dia."

:"Apabila kembali, aku sangat terkejut melihat seorang laki-laki tua sedang menyembelih untaku, rupanya untaku terlepas dan merosakkan kebun milik laki-laki tua itu."

"Sungguh, aku sangat marah, segera ku cabut pedangku dan ku bunuh ia. Ternyata ia adalah ayah dari kedua pemuda ini."

"Wahai, Amirul Mukminin, kau telah mendengar ceritanya, kami boleh mendatangkan saksi untuk itu", sambung pemuda yang ayahnya terbunuh. 

"Tegakkanlah had Allah atasnya!" kata pemuda yang seorang lagi.

Umar terpegun dan bimbang mendengar cerita si pemuda lusuh. "Sesungguhnya yang kalian tuntut ini pemuda soleh lagi baik budinya. Dia membunuh ayah kalian karena khilaf kemarahan sesaat", ujarnya. 

"Izinkan aku, meminta kalian berdua memaafkannya dan akulah yang akan membayarkan diyat atas kematian ayahmu", lanjut Umar.

"Maaf Amirul Mukminin," sergah kedua pemuda yang masih dengan mata marah menyala, "kami sangat menyayangi ayah kami, dan kami tidak akan redha jika jiwa belum dibalas dengan jiwa".

Umar semakin bimbang, di hatinya lahir rasa simpati kepada si pemuda lusuh yang dirasanya amanah, jujur dan bertanggung jawab.

Tiba-tiba si pemuda lusuh berkata, "Wahai Amirul Mukminin, tegakkanlah hukum Allah, laksanakanlah qishash ke atas ku. Aku redha dengan ketentuan Allah" ujarnya dengan tegas. "

"Namun, izinkan aku menyelesaikan dulu urusan kaumku. Berilah aku tangguh 3 hari. Aku akan kembali untuk di qishash".

"Mana boleh begitu?", ujar kedua pemuda.

"Wahai pemuda, apakah kamu tak ada kerabat atau kenalan untuk mengurus urusanmu?" tanya Umar.

"Tidak ada Amirul Mukminin, bagaimana pendapatmu jika aku mati membawa hutang tanggungjawab kaumku bersamaku?" pemuda lusuh bertanya kembali.

"Baik, aku akan memberimu waktu tiga hari. Tapi harus ada yang mahu menjaminmu, agar kamu kembali untuk menepati janji." kata Umar.

"Aku tidak memiliki seorang kerabatpun di sini. Hanya Allah, hanya Allah penjaminku wahai orang-orang beriman", rayunya.

Tiba-tiba dari belakang hadirin terdengar suara lantang, "Jadikan aku penjaminnya wahai Amirul Mukminin". Ternyata Salman Al-Farisi yang berkata...

"Salman?" herdik Umar marah, "Kau belum mengenal pemuda ini. Demi Allah, jangan main-main dengan urusan ini".

"Perkenalanku dengannya sama dengan perkenalanmu dengannya, ya Umar. Dan aku mempercayainya sebagaimana engkau percaya padanya", jawab Salman tenang.

Akhirnya dengan berat hati Umar mengizinkan Salman menjadi penjamin si pemuda lusuh.

Pemuda itu pun pergi mengurus urusannya.

Hari pertama berakhir tanpa ada tanda-tanda kedatangan si pemuda lusuh. Begitupun hari kedua. Orang-orang mula bertanya-tanya apakah si pemuda akan kembali. Kerana mudah saja jika si pemuda itu menghilang ke negeri yang jauh.

Hari ketiga pun tiba. Orang-orang mulai meragukan kedatangan si pemuda, dan mereka mulai khuatirkan nasib Salman, salah satu sahabat Rasulullah SAW yang paling utama.

Matahari hampir terbenam, siang mula berakhir. Orang ramai berkumpul untuk menunggu kedatangan si pemuda lusuh. 

Umar berjalan mundar-mandir menunjukkan kegelisahannya. Kedua pemuda yang menuntut hak keadilan kecewa kerana keengkaran janji si pemuda lusuh tersebut.

Akhirnya tiba waktunya untuk dilaksanakan pengqisashan. Salman dengan tenang dan penuh ketawakkalan berjalan menuju tempat pembunuhan. Hadirin mulai teresak, orang hebat seperti Salman akan dikorbankan.

Tiba-tiba di kejauhan ada sesusuk bayangan berlari terhuyung-hayang.... Jatuh, bangkit, kembali jatuh, lalu bangkit kembali.

"Itu dia!" teriak Umar, "Dia datang menepati janjinya!".

Dengan tubuh bersimbah peluh dan nafas tercungap-cungap, si pemuda itu berpaut di pangkuan Umar. 

"Hh..hh.. maafkan.. maafkan.. aku.." ujarnya dengan susah payah, "Tak ku sangka.. urusan kaumku.. mengambil.. banyak.. waktu..".

"Ku pacu.. tungganganku..  tanpa henti, hingga.. ia keletihan di gurun.. terpaksa.. kutinggalkan.. lalu aku berlari dari sana..".

"Demi Allah", ujar Umar menenanginya dan memberinya minum, "Mengapa kau susah payah kembali? Padahal kau boleh saja menghilang diri?"

"Aku khuatir jangan sampai ada yang mengatakan.. dalam kalangan Muslimin.. tak ada lagi pahlawan.. tak ada lagi yang tepati janji.." jawab si pemuda lusuh.

Mata Umar berkaca-kaca, sambil menahan haru, lalu beliau bertanya, "Lalu kau Salman, mengapa semahu-mahunya kau menjamin orang yang baru saja kau kenal?". 

"?.... Agar jangan sampai ada yang mengatakan dalam kalangan Muslimin, tidak ada lagi rasa saling percaya dan mahu menanggung beban saudaranya", Salman menjawab dengan mantap.

Lantaran itu ramai hadirin mulai menahan tangis terharu dengan kejadian itu.

"Allahu Akbar!" tiba-tiba kedua pemuda yang menuntut hak tersebut berteriak, "Saksikanlah wahai kaum Muslimin, bahwa kami telah memaafkan saudara kami itu".

Semua orang tersentak....!!!

"Kalian.." ujar Umar, "Apa maksudnya ini? Mengapa kalian..?" Umar semakin terharu.
  
"..... agar jangan sampai dikatakan, dalam kalangan Muslimin tidak ada lagi orang yang mahu memberi maaf dan sayang kepada saudaranya," ujar kedua pemuda membahana.

"Allahu Akbar!" teriak hadirin.

Pecahlah tangis bahagia, haru dan bangga oleh semua orang.

Begitupun kita di sini, di saat ini....sambil menyisipkan sekelumit rasa iri hati kerana tidak boleh merasakannya secara langsung bersama saudara-saudara kita pada saat itu..

"Allahu Akbar...".
Laa ilaa iLla anta
Subhaanaka innii kuntu minaz zhaalimiin.

Banyak pengajaran dan iktibar dari cerita ini.
MANFAATkanlah.....
.
.

No comments: